Laman

Rabu, 16 Mei 2012

contoh makalah komunikasi antar pesona


KATA PENGANTAR

            Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan karunia_Nya yang tidak ternilai kepada kami. Shalawat serta salam semoga terlimpah curah kepada Rasululloh SAW, keluarga dan segenap sahabat-sahabatnya, hingga akhir zaman. Amin.
            Banyak rintangan dan hambatan yang kami hadapi dalam penyusunan makalah ini. Namun berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan makalah mengenai:
  1. Definisi, Ciri-ciri dan Model Komuniksi antar Persona.
  2. Teori Analisis Transaksional
  3. Teori Persentasi Diri.
 Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teori Komunikasi.
            Seperti pepatah lama tidak ada gading yang tak retak, demikian juga dalam hal penyusunan makalah ini. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna perbaikan makalah ini selanjutnya.
Semoga makalah ini dapat mencapai apa yang di harapkan Bapa Ibu dosen.



                                                                                   







Garut, Maret 2010
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ...................................................................................... 1
DAFTAR ISI ..................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang................................................................................... 3
1.2  Pembatasan Masalah.......................................................................... 4
1.3  Tujuan Penulisan Makalah.................................................................. 4
1.4  Teknik Penyusunan............................................................................ 4
BAB II PEMBAHASAN
            2.1    Definisi, Ciri-ciri dan Model Komuniksi antar Persona.................. 5
            2.2    Teori Analisis Transaksional…………………….……………..    13
            2.3    Teori Persentasi Diri……………………………………………   

BAB III  PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................... 16
3.2 Saran............................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA ………… ……………………………………………   17

















BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Komunikasi antar Personal adalah komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang (Wiryanto, 2004) sedangkan Komunikasi Interpersonal (KIP) adalah interaksi orang ke orang, dua arah, verbal dan non verbal. Saling berbagi informasi dan perasaan antara individu dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil (Febrina, 2008).
Acap kali di kalangan mahasiswa  sering terjadi kesalahan dalam mengartikan komunikasi antar personal dengan komunikasi intra personal. Bertitik tolak pada uraian permasalahan diatas, penulis mencoba untuk memberikan pengetahuan mengenai hal-hal tersebut dan selanjutnya di tuangkan dalam bentuk makalah ini.
1.2 Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka kami dapat merumuskan dan membatasi masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana Definisi, Ciri-ciri dan Model Komuniksi antar Personal?
2.      Bagaimana Teori Analisis Transaksional?
3.      Bagaimana Teori Persentasi Diri?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Dari pembatasan masalah diatas, maka tujuan penyusunan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui bagaimana Definisi, Ciri-ciri dan Model Komuniksi antar Persona ?
2.      Untuk mengetahui bagaimana Teori Analisis Transaksional?
3.      Untuk mengetahui bagaimana  Teori Persentasi Diri?
1.4   Teknik Penyusunan
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menggunakan metode studi kepustakaan, yaitu metode pengumpulan data dengan cara pengambilan sumber informasi melalui internet yang berhubungan dan mendukung isi makalah ini, pengambilan informasi juga dari berbagai referensi makalah yang berhubungan dengan isi makalah ini. Berbagai materi tersebut dirangkum dan digabungkan.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Definisi, Ciri-ciri dan Model Komuniksi antar Personal
a. Definisi Komunikasi antar Personal
Komunikasi antar Personal adalah komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang (Wiryanto, 2004).
Komunikasi Interpersonal (KIP) adalah interaksi orang ke orang, dua arah, verbal dan non verbal. Saling berbagi informasi dan perasaan antara individu dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil (Febrina, 2008).
Komunikas intra personal Antara Dua Orang adalah komunikasi dari seseorang ke orang lain, dua arah interaksi verbal dan nonverbal yang menyangkut saling berbagi informasi dan perasaan.
Komunikasi intra personal Antara Tiga Orang/ lebih, menyangkut komunikasi dari orang ke beberapa oarng lain (kelompok kecil). Masing-masing anggota menyadari keberadaan anggota lain, memiliki minat yang sama dan/atau bekerja untuk suatu tujuan.
Tiga pendekatan utama tentang pemikiran Komunikasi antar personal berdasarkan:
1. Komponen-komponen utama
Bittner (1985:10) menerangkan Komunikasi antar personal berlangsung, bila pengirim menyampaikan informasi berupa kata-kata kepada penerima dengan menggunakan medium suara manusia (human voice).
Menurut Barnlund (dikutip dalam Alo Liliweri : 1991), ciri-ciri mengenali Komuniksasi antar personal sebagai berikut : (a) bersifat spontan; (b) tidak berstruktur; (c) kebetulan; (d) tidak mengejar tujuan yang direncanakan; (e) identitas kenggotaan tidak jelas; (f) terjadi sambil lalu.


2.Hubungan diadik
Hubungan diadik mengartikan Komuniksasi antar personal sebagi komunikasi yang berlangsung antara dua orang yang mempunyai hubungan mantap dan jelas.
Untuk memahami perilaku seseorang, harus mengikutsertakan paling tidak dua orang peserta dalam situasi bersama (Laing, Phillipson, dan Lee (1991:117).
Trenholm dan Jensen (1995:26) mendefinisikan Komunikasi antar personal sebagai komunikasi antara dua orang yang berlangsung secara tatap muka (komunikasi diadik). Sifat komunikasi ini adalah : (a) spontan dan informal; (b) saling menerima feedback secara maksimal; (c) partisipan berperan fleksibel.
Trenholm dan Jensen (1995:227-228) mengatakan tipikal pola interaksi dalam keluarga menunjukkan jaringan komunikasi.
3.Pengembangan
Komuniksai antar personal dapat dilihat dari dua sisi sebagai perkembangan dari komunikasi impersonal dan komunikasi pribadi atau intim. Oleh karena itu, derajat Komuniksasi antar personal berpengaruh terhadap keluasan dan kedalaman informasi sehingga merubah sikap.
Pendapat Berald Miller dan M. Steinberg (1998: 274), pandangan developmental tentang semakin banyak komunikator mengetahui satu sama lain, maka semakin banyak karakter antarpribadi yang terbawa dalam komunikasi tersebut.
Edna Rogers (2002: 1), mengemukakan pendekatan hubungan dalam menganalisis proses komunikasi antar personal mengasumsikan bahwa komunikasi antar personal  membentuk struktur sosial yang diciptakan melalui proses komunikasi.
b. Ciri-ciri Komuniksasi antar personal
 Ciri-ciri Komuniksasi antar personal menurut Rogers adalah : (a) arus pesan dua arah; (b) komteks komunikasi dua arah; (c) tingkat umpan balik tinggi; (d) kemampuan mengatasi selektivitas tinggi; (e) kecepatan jangkauan terhadap khalayak relatif lambat; (f) efek yang terjadi perubahan sikap.
B. Efektifitas Komuniksasi antar personal merupakan komunikasi paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang.
menurut Kumar (2000: 121-122), lima ciri efektifitas Komuniksasi antar personal sebagai berikut : (1) keterbukaan (openess) ; (2) empati (empathy) ; (3) dukungan (supportiveness) ; (4) rasa positif (positiveness) ; (5) kesetaraan (equality).
Feedback yang diperoleh dalam Komuniksasi antar personal berupa feedback positif, negatif dan netral. Prinsip mandasar dalam komunikasi manusia berupa penerusan gagasan.
David Berlo (1997:172) mengembangkan konsep empati menjadi teori komunikasi. Empat tingkat ketergantungan komunikasi adalah : (1) peserta komunikasi memilih pasangan sesuai dirinya; (2) tanggapan yang diharapkan berupa umpan balik; (3) individu mempunyai kemampuan untuk menanggapi, mengantisipasi bagaimana merespon informasi, serta mengembangkan harapan-harapan tingkah laku partisipan komunikasi; (4) terjadi pergantian peran untuk mencapai kesamaan pengalaman dalam perilaku empati.
Berlo membagi teori empati menjadi dua : (1) Teori Penyimpulan (inference theory), orang dapat mengamati atau mengidentifikasi perilakunya sendiri; (2) Teori Pengambilan Peran (role taking theory), seseorang harus lebih dulu mengenal dan mengerti perilaku orang lain.
Tahapan proses empati :
1. Kelayakan (decentering) ; bagaimana individu memusatkan perhatian kepada orang lain dan mempertimbangkan apa yang dipikirkan & dikatakan orla tersebut.
2. Pengambilan peran (role taking) ; mengidentifikasikan orla ke dalam dirinya, menyentuh kesadaran diri melalui orla.
Tingkatan dalam pengambilan peran : (a) tingkatan budaya (cultural level), mendasarkan keseluruhan karakteristik dari norma dan nilai masyarakat. (b) tingkatan sosiologis (sociological level), mendasarkan pada asumsi sebagian kelompok budaya. (c) tingkatan psikologis (psycological level), mendasarkan pada apa yang dialami oleh individu.
3. Empati komunikasi (empathic communication), meliputi penyampaian perasaan, kejadian, persepsi atau proses yang menyatakan tidak langsung perubahan sikap/ perilaku penerima.
Blumer mengembangkan pemikiran Mead melalui pokok pikiran interaksionisme simbolik yaitu “Manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning) yang dipunyai objek tersebut bagi dirinya.
Kesimpulan :
Komunikasi memberikan bimbingan kepada peserta komunikasi untuk saling berbagi asumsi, perspektif dan pengertian mengenai informasi yang dibicarakan untuk memudahkan proses empati.
1. Teori Atribusi
Teori atribusi membahas bagaimana seseorang menyusun suatu penjelasan berangkat dari kata tanya "mengapa" (Kelley,2003). Teori ini berkembang dalam psikologi sosial terutama sebagai senjata yang digunakan dalam menjawab berbagai permasalahan terkait dengan persepsi sosial. Misalnya, jika seorang berlaku agresif, apakah hal ini berarti ia seorang yang agresif (karakteristik individu) ataukah karena situasi yang mengharuskan ia berbuat demikian (situasional)? Tentu saja atribusi sangat berhubungan dengan informasi-informasi yang memang digunakan dalam menarik kesimpulan.
Teori atribusi yang dikemukakan oleh Heider (1958) merupakan metode yang digunakan untuk mengevaluasi bagaimana orang mempersepsi perilakunya maupun perilaku orang lain. Teori atribuasi akan memberikan penjelasan mengenai penyebab perilaku tersebut.



2. Teori Penetrasi Sosial
Altman dan Taylor mengemukakan inti teori ini dalam hubungan antar pribadi selalu ada penyusupan sosial. Ketika kita baru berkenalan dengan seseorang kita mulai dengan suatu suasana yang tidak akrab, namun setelah proses hubungan terus berlanjut maka situasi hubungan mulai berubah menjadi lebih akrab. Akibatnya setiap orang menghitung keuntungan dan kerugiaan yang bisa diterima akibat hubungan tersebut. Kesimpulannya hubungan antarpribadi selalu melalui suatu proses yang berubah terus menerus.

3. Teori Pandangan Proses
Teori ini beranggapan hubungan antarpribadi seseorang dapat diramalkan melalui pengetahuan dan keadaan pribadi komunikasi yang dapat menjelaskan tentang kualitas dan kemurnian hubungan antarpribadi yang terjadi antara kedua belah pihak. Dengan proses peramalan yang dilakukan antara komunikator dengan komunikan maka secara tidak langsung hubungan antarpribadi tersebut dapat diperkirakan keaslian maupun kepalsuannya. Pada titik tertentu ternyata teori ini dapat berfungsi sebagai pelengkap dari teori-teori sebelumnya.

4. Teori Perspektif Pertukaran
Teori ini beranggapan bahwa seseorang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Pada pendekatan obyektif cenderung menganggap manusia yang mereka amati sebagai pasif dan perubahannya disebabkan kekuatan-kekuatan sosial di luar diri mereka. Pendekatan ini juga berpendapat, hingga derajat tertentu perilaku manusia dapat diramalkan, meskipun ramalan tersebut tidak setepat ramalan perilaku alam. Dengan kata lain, hukum-hukum yang berlaku pada perilaku manusia bersifat mungkin (probabilistik). Misalnya, kalau mahasiswa lebih rajin belajar, mereka (mungkin) akan mendapatkan nilai lebih baik; kalau kita ramah kepada orang lain, orang lain (mungkin) akan ramah kepada kita; bila suami isteri sering bertengkar, mereka (mungkin) akan bercerai.


Teori analisis transaksional merupakan karya besar Eric Berne (1964), yang ditulisnya dalam buku Games People Play. Berne adalah seorang ahli ilmu jiwa terkenal dari kelompok Humanisme. Teori analisis transaksional merupakan teori terapi yang sangat populer dan digunakan dalam konsultasi pada hampir semua bidang ilmu-ilmu perilaku. Teori analisis transaksional telah menjadi salah satu teori komunikasi antarpribadi yang mendasar.
Kata transaksi selalu mengacu pada proses pertukaran dalam suatu hubungan. Dalam komunikasi antarpribadi pun dikenal transaksi. Yang dipertukarkan adalah pesan-pesan baik verbal maupun nonverbal. Analisis transaksional sebenarnya ber­tujuan untuk mengkaji secara mendalam proses transaksi (siapa-­siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang dipertukarkan).
Dalam diri setiap manusia, seperti dikutip Collins (1983), memiliki tiga status ego. Sikap dasar ego yang mengacu pada sikap orangtua (Parent= P. exteropsychic); sikap orang dewasa (Adult=A. neopsychic); dan ego anak (Child = C, arheopsychic). Ketiga sikap tersebut dimiliki setiap orang (baik dewasa, anak-anak, maupun orangtua).
           Sikap orangtua yang diwakili dalam perilaku dapat ter1ihat dan terdengar dari tindakan maupun tutur kata ataupun ucapan-ucapan­nya. Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP). Sebaliknya ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, me­larang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP).
Setiap orang juga menurut Berne memiliki sikap orang dewasa. Sikap orang dewasa umumnya pragmatis dan realitas. Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, ber­sifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya.
Sikap lain yang dimiliki juga adalah sikap anak-anak. Dibedakan antara natural child (NC) yang ditunjukkan dalam sikap ingin tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya yang ber­sifat adapted child (AC) adalah mengeluh, ngambek, suka pamer, dan bermanja diri.
Ketiga sikap itu ibarat rekaman yang selalu diputar-putar bagai piringan hitam dan terus bernyanyi berulang-ulang di saat di­kehendaki dan dimungkinkan. Karenanya maka sering anda ber­kata : si Pulan sangat dewasa; si Iteung kekanak-kanakan; atau si Ucok sok tua, mengajari/menggurui.
      Bagaimana cara mengetahui sikap ego yang dimiliki setiap orang? Berne mengajukan empat cara, yaitu:
1.      Melihat tingkah laku nonverbal maupun verbal yang digunakannya. Tingkah laku non­verbal tersebut pada umumnya sama namun dapat dibedakan kode-kode simbolnya pada setiap orang sesuai dengan budaya yang melingkupinya. Di samping nonverbal juga melalui verbal, misalnya pilihan kata. Seringkali (umumnya) tingkah laku melalui komunikasi verbal dan nonverbal berbarengan.
2.      Mengamati bagaimana sikap seseorang ketika bergaul dengan orang lain. Dominasi satu sikap dapat dilihat kalau Pulan sangat menggurui orang lain maka Pulan sangat dikuasai oleh P dalam hal ini critical parent. Si Iteung suka ngambek maka Iteung dikuasai oleh sikap anak. Si Ucok suka bertanya dan mencari fakta-fakta atau latar belakang suatu kejadian maka ia dikuasai oieh sikap dewasa.
3.      Mengingat kembali keadaan dirinya sewaktu masih kecil; hal demikian dapat terlihat misalnya dalam ungkapan : buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Cara berbicara, gerak-gerik nonverbal mengikuti cara yang dilakukan ayah dan ibunya yang anda kenaI.
4.      Mengecek perasaan diri sendiri, perasaan setiap orang muncul pada konteks, tempat tertentu yang sangat mempengaruhi apakah lebih banyak sikap orang tua, dewasa, ataupun anak-anak sangat menguasai mempengaruhi seorang.

            Berne juga mengemukakan terdapat beberapa faktor yang menghambat terlaksananya transaksi antarpribadi, atau keseim­bangan ego sebagai sikap yang dimiliki seseorang itu. Terdapat dua hambatan utama yaitu:
1.      Kontaminasi (contamination). Kontaminasi merupakan pengaruh yang kuat dari salah satu sikap atau lebih terhadap seseorang sehingga orang itu “berkurang” keseimbangannya.
2.      Eksklusif (exclusive); penguasaan salah satu sikap atau lebih terlalu lama pada diri seseorang. Misalnya sikap orang tua yang sangat mempengaruhi seseorang dalam satu waktu yang lama sehingga orang itu terus menerus memberikan nasihat, melarang perbuatan tertentu, mendorong dan menghardik.

            Berne mengajukan tiga jenis transaksi antarpribadi yaitu: transaksi komplementer, transaksi silang, dan transaksi ter­sembunyi.
1.      Transaksi komplementer; jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena ter­jadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi tran­saksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.
2.      Tran­saksi silang; terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator  tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalah­pahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan lain.
3.      Transaksi tersembunyi; jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat dalam komunikasi antar­pribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya ter­sembunyi. Jika terjadi 3 sikap dasar sedangkan yang lainnya di­sembunyikan maka transaksi itu disebut transaksi tersembunyi 1 segi (angular). Kalau yang terjadi ada 4 sikap dasar dan yang disembunyikan 2 sikap dasar disebut dengan dupleks.

2.3 Teori Presentasi Diri
Teori Presentasi diri (self presentation) adalah upaya untuk menumbuhkan kesan tertentu di depan orang lain dengan cara menata perilaku. Untuk memperoleh presentasi diri yang baik orang mencoba mengelola impresi diri (impression management). Impresi yang pertama kali kita buat di depan orang lain akan menentukan bagaimana hubungan orang lain dengan kita.
Ada berbagai cara untuk menumbuhkan kesan positif di depan orang lain :
·                     Forsythe, Drake & Cox, 1985 : pakaian yang kita pakai adalah sesuatu yang sangat menentukan kesan terhadap diri kita. Wanita yang berpakaian profesional ( Blazer dan rokspan disaat melamar pekerjaan lebih sering diterima pada posisi manajemen jika dibandingkan dengan wanita yang melamar dengan pakaian konvensional (misalnya rok terusan)
·                     Baron, 1989 : penampilan model rambut, kosmetik, dan kaca mata ikut pula mempengaruhi kesan orang lain pada seseorang.
·                     Jones and Pitman (1982) : mengemukakan lima teknik presentasi diri pada orang lain :
o        Ingrasiasi (ingratiation)
o        Promosi Diri (self promotions)
o        Intimidasi
o        Eksemplikasi ( exemplication)
o        Suplikasi (supllication)

Konsep diri : terdiri 3 komponen utama yang saling mempengaruhi, yaitu : Diri ideal (self ideal ), citra diri ( self image ) dan harga diri ( self esteem )
masing masing komponen memiliki fungsi. setiap individu perlu memahami fungsi masing masing komponen agar terbentuk konsep diri positif.
Self ideal : menetukan arah perkembangan diri dan pertumbuhan karakter serta kepribadian. Merupakan gabungan dari semua kualitas serta ciri kepribadian orang yang sangat dikagumi. merupakan gambaran dari sosok yang sangat diinginkan untuk menjadi sepertinya.
Self image : cara individu “melihat” dan berpikir mengenai dirinya sendiri pada waktu sekarang ini. Sering kali disebut cermin diri. Individu akan bertindak sesuai dengan bayangan/gambar yang muncul didalam cermin
Self esteem : komponen yang bersifat emosional dan paling penting dalam menentukan sikap dan kepribadian individu. Didefinisikan sebagai seberapa suka dan hormat seseorang terhadap dirinya sendiri. Merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup. Ditentukan oleh hubungan antara self ideal dan self image.


DAFTAR FUSTAKA


http://wsmulyana.wordpress.com/2009/01/19/analisis-transaksional-eric-berne/
http://abdulsalamserbakomunikasi.blogspot.com/2010/02/teori-teori-komunikasi-antar-persona.html


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar